Senin, 09 November 2009

Kurang!

Kemaren saya ikutan bikin sebuah event. Di tengah2 berjalannya event itu, ada pembicaraan menarik diantara panitia itu yg saya dengar:


Read More..

Minggu, 01 November 2009

Pemilihan Kata



Ada satu hal dilematis yg dari dulu saya pikirin. Yaitu masalah pemilihan kata ganti orang pertama dalam penulisan. Saya sering bingung memilih kata "saya", "aku" atau "gue". Masing-masing dari kata itu punya nilai tersendiri:


Gue: Lebih personal, santai, enak dibaca, sesuai dengan umur saya yang masih muda. Cuman kata ini berasal dari jakarta, kayaknya diciptakan buat anak-anak gaul jakarta. Sedangkan saya besar di Semarang. Ada perasaan bersalah kalo menggunakannya. Seakan mengkhianati kultur daerah sini, dan selain kata itu juga gak termasuk kata baku.


Saya: Termasuk kata baku. Ada perasaan bangga kalo menggunakannya. Seolah ikutan kampanye penggunaan bahasa yang baik. Cuman sekarang ini masih terkesan kayak novel serius, tua, dan kaku. Belum populer di kalangan anak muda.


Aku: Untuk cerita-cerita yang menyentuh, kata ini sangat tepat karena bisa membawa kita 'masuk' lebih dalam. Sebenarnya ditujukan untuk anak muda, tapi gak terkesan santai. Malah terasa kayak orang lagi baca puisi.



Untuk sementara saya emang lebih prefer ke kata "saya". Tapi sebenarnya saya ingin menggunakan semua kata ganti itu. Jadi setiap kali posting bisa menggunakan "saya", "gue" atau "aku".

Tapi kayak orang yang gak konsisten ya? Kayak gak punya gaya khas tulisan?
Read More..

Sabtu, 31 Oktober 2009

Berniat untuk menampar orang



Ada seorang anak perempuan, usianya 12 tahun. Setiap hari kerjaanya cuman main-main, karena dia udah putus sekolah sejak kelas 3 SD. Dia punya banyak teman di tempat tinggalnya. Sebuah desa yang terpencil. Dimana listrik masih sebatas untuk lampu bohlam kecil. Rumah masih berdinding kayu seadanya. Lantai masih dari tanah, gak ada bedanya dengan halaman rumah.

Kemudian suatu hari, dia sedang bermain dengan teman-temannya. Ketika Bapaknya memanggil dan mengajaknya ke suatu tempat. Ditinggalkannya permainan yang sedang asik-asiknya itu, dia patuh untuk ikut. Tanpa bertanya2, ini mau kemana, ini ada apa.

Perjalanan mereka tak begitu jauh, walau dengan jalan kaki. Melewati pekampungannya yang banyak pohon kelapa, yang begitu tinggi, yang begitu membuat si bocah perempuan tampak kecil. Tapi orang-orang kampung disana ramah menyapanya, menciptakan energi tak terbatas.

Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah, yang jelas berbeda dari rumahnya. Mereka masuk di ruang tamu, yang di dalamnya sudah penuh oleh sebuah keluarga besar. Mereka duduk, dan pembicaraan langsung dimulai. Si bocah belum mengerti. Sedangkan orang-orang disana sedang memandanginya. Bingung, karena ternyata yang datang seorang anak kecil.

Si Bapak dari bocah itu kemudian membuka pembicaraan.

"Ngene lho nak, bapak wes rak iso meneh membiayai koe mbek sedulur2mu. Lha iki ono kenalan bapak seko luar kota, kebetulan meh golek pembantu. Koe gelem melu rak?"

Bapaknya bertanya dengan nada diplomatis. Seakan memberi pilihan untuknya memilih sendiri. Tapi tersirat harapan besar agar si bocah menurutinya.

Gak mudah begitu aja meninggalkan dunia yang sedang kita jalani tiba-tiba. Ada semacam dilema yang tidak disadarinya. Cuman pilihannya jelas, dan dia harus memutuskan. Bertahan dengan keceriaan yang sedang ada di desanya ini, atau membantu ayahnya. Sulit, buat anak umur 12 tahun, untuk memutuskan. Awalnya matanya cuma berkaca-kaca. Dan akhirnya berbicara:

"Iya pak, aku melu"

"Yowes, kono balik sek saiki, jipuk pakaianmu. Soale saiki meh langsung mangkat"

Berangkat sekarang? Tiba-tiba meninggalkan bapak, adek, kakak, dan temen2? Tiba-tiba berada di kota yang sangat jauh? Bersama orang yang asing? Tapi si anak langsung menurut, pulang.

Tak lama dia kembali lagi. Dengan mata sembab, seperti habis menangis. Disana mobil yang penuh dengan anggota keluarga (baru) telah menanti. Dia menyalami bapaknya, dengan gaya khas sungkeman. Dan air mata deras pun mengalir kembali.

Keluarga saya mempersilakannya masuk ke mobil. Si bocah yang matanya masih tampak sembab, memandangi ayahnya agak lama. Karena memang, kota yang akan ditujunya sangat jauh, dan tak bisa lagi menghubungi ayahnya untuk waktu yang lama. Di desanya memang tak ada telepon. Tak ada pula kotak surat. Karena rumahnya hanya berdiri asal di atas tanah.

Satu2nya ekspresi yang bisa diutarakannya di mobil yang berisi orang-orang baru ini adalah: Muntah, mabok darat.

"Maaf, gak pernah naik mobil"

...
Keluarga saya sebenarnya agak berat menerimanya. Karena dia masih 12 tahun. Tapi bapaknya memohon. Mengingat di rumahnya gak ada yang mengurusnya, ibunya udah 'gak ada'. Disamping hidup yang benar-benar pas-pasan dan bapaknya hanya bekerja serabutan. Padahal anaknya 7.

Tapi yang jelas saya salut pada pembantu saya itu. Apa saya mampu mengambil keputusan besar secepat itu?

...
*Kejadian nyata sekitar 5 tahun  yang lalu.




Read More..

Senin, 26 Oktober 2009

Maaf

Saya memerhatikan live traffic blog ini. Ada salah satu item aneh.





Ternyata ada yang sedang mencari tugas kuliah di google dengan kata kunci "apa yang dimaksud dengan jurnal kewirausahaan".  Dan kemudian masuk ke blog saya yang berada di peringkat ke-3.




Haha, padahal blog saya sama sekali gak ada hubungannya dengan jurnal kewirausahaan. Saya mohon maaf kalo blog sampah saya mengacaukan fokus anda yang sedang konsen membuat tugas.

Saya ngerti kok perasaannya. Saya juga pernah 'kesasar' begitu.
Read More..

Tamparan

Saya baru saja ditampar.


Ceritanya kemaren sewaktu pulang dari bandungan, saya menemukan rumah saya bertambah 1 orang. Seorang anak kelas 3 SMP, seumuran dengan adek terkecil saya. Dia ternyata adalah murid ibu saya, yang mulai sekarang akan tinggal disini. Saya awalnya kurang setuju. Karena merasa rumah saya kecil, dan sudah penuh.


Tapi pikiran itu segera berubah. Sewaktu saya mau berangkat ke kampus, ibu saya bercerita.


"Itu murid mama, orang tuanya setiap hari kerjanya mengupas singkong 1 kuintal!! dari pagi sampe sore dan cuma dibayar Rp 12.500,00. Kalo ngupasnya kurang dari segitu, bayarannya kurang. Padahal anaknya ada 7. Salah satunya murid mama ini"


Saya tercekik, membayangkan singkong 1 kuintal. Kalo saya 10 kg aja belum tentu tahan. Ah saya jadi setuju ibu saya membantunya tinggal disini.


---


Hari ini saya lebih kaget. Ada suara2 pada jam 3 pagi. Saya bangun dan berniat mengeceknya. Saya keluar kamar dan melihat ternyata suara itu berasal dari si orang baru, yang sedang mengepel. Apa? Mengepel jam 3 pagi? Suatu kegiatan yang cukup aneh, disaat belum ada yang bangun sama sekali.


Padahal dia masuk sekolah jam 7. Dan berangkat sepagi mungkin karena 2 kali naik bis dengan jarak yang lumayan jauh. Dan sepulang sekolah pun dia langsung kerja, beres2 rumah. Malamnya gak ikut nonton teve bareng karena belajar di kamar adek saya. Semua dilakukan karena inisiatif sendiri.


Suatu kehidupan kontras yang menampar saya.
Read More..

Selasa, 20 Oktober 2009

Kebiasaan

Entah udah keberapa kali. Seingat saya udah puluhan. Tapi kejadian ini terus menerus terjadi bagai de javu. Atau lebih tepatnya nightmare (kl ini masih belum tergolong lebay).

Dulu waktu saya baru masuk kuliah, saya sering makan bareng 5 org temen. Salah satunya udah bekerja di pemda jakarta, tp lg pendidikan disini. Saya gak mengira ternyata dia baik, suka bayar2in makan. Maka pd awal kuliah saya sering kecolongan. Dalam artian, saya itu pada dasarnya gak suka lelet / bertele2 / lamban. Jadi begitu selesai makan di warung biasanya langsung bayar. Padahal biasanya terakhir2, si tmen saya itu sering membayari semua makan tmen2nya. Saya sering gak termasuk karena udh bayar duluan.

Dan saya bukan tipe org yg belajar dari masa lalu. Karena kejadian ini terjadi lagi dan lagi, tanpa sadar. Saya selalu pengen cepet2 bayar, dan kemudian pasti menyesal setelah teman saya membayari semua. Terutama pas tgl muda. Entah kenapa saya gak bisa mengingatnya.

Untuk subject yg satu ini aja udah puluhan kasus. Eh, masih ditambah temen yg lain. Diantara berlima itu.

Maksudnya gini. Ada temen saya juga yg baru2 ini udh bekerja. Nah pas gajian pertamanya dia membayari seluruh makan teman2. Lagi2 saya gak termasuk, karena saya pas gak memesan makan. Waktu itu saya emang lg niat hemat dan gak tau kl ujung2nya ada tmen saya yg mau bayarin. Gitu dia gak bilang dr awal.

Dan Terjadi lagi kemaren persis. Saya makan bersama teman2. Karena tgl sgt tua, karena teman saya udh gak gajian pertama, saya yakin hari ini gak ada yg bayarin. Jadi saya bayar cepet. Eh tau2nya setelah itu ada temen saya (yg biasanya agk pelit) membayar semua makan kami. Ternyata dia abis dapat rejeki dari hasil makelaran.

Kesannya saya materalistis ya, makan gratis aja dipikirin. Dibilang kapitalis pun saya rela, asal kesempatan makan gratis berikutnya tidak terlewatkan sia-sia.

Read More..

Kamis, 15 Oktober 2009

Momen yg tepat

Sebulan lalu saya membeli sebuah tiket. Dan kini sebentar lagi saya bisa menikmatinya.

Momennya tepat banget. Dimana setelah seminggu ini saya dapat pukulan bertubi2. Tugas2, kerjaan rumah, dan beberapa proyek dengan teman2 saya. Saya gak menyangka tiket yg saya beli dulu akan saya nikmati pada saat perfect seperti sekarang ini. Dimana saya emang sdg butuh re-energized. Keluar sebentar dari rutinitas buat kembali pulang dg tenaga baru.

Saya sempat lupa kl punya tiket ini, karena memang saya titipkan ke teman. Selain itu, seminggu ini benar2 full kegiatan. Waktu begitu cepat, otak saya hampir2 gak punya ruang lagi buat mikirin hal lain. But, thx God, hari ini datang.

Ini hari jumat, sehari sebelum konser No Use For A Name. Sebuah band yg benar2 saya gila-gilai dari sejak album perdananya. Hari ini saya berniat untuk mendengarkan lagi seluruh albumnya. Membaca lagi seluruh lirik2nya. Sebelum nanti malam pukul 19.00, saya berangkat ke Jakarta...

Walaupun masih ada satu tugas kuliah, saya udah gak mau terlalu peduli.

Aaaahhhh No Use For A Name!!! You're coming too close!


Read More..