Recent Posts

Minggu, 04 Maret 2012

1 Minggu BERBUAT!

Beberapa bulan lalu pernah bikin campaign untuk diri sendiri: 4 hours a day. Ini adalah campaign untuk meningkatkan wawasan saya, yang dirasa masih cetek. Inti dari campaign ini adalah: dalam 1 hari menyempatkan 4 jam untuk membaca. Yah, campaign ini lumayan sukses, bisa berjalan 2 minggu.


Saya memasang poster campaign ini di kamar, untuk selalu mengingatkan. Pada akhirnya campaign ini berakhir gara-gara poster harus dicopot karena kamar bocor. Saya mulai kembali ke kehidupan awal. Tetapi semangat untuk selalu membaca masih ada, sedikit-sedikit.

...
Minggu-minggu belakangan ini kayaknya kurang produktif. Baik dari segi skripsi maupun dari segi sosial. Maka saya bertekad menjalankan campaign semacam itu lagi. Tapi karena saya orangnya gampang bosen, maka harus bikin yang baru.

Sewaktu mikir idenya, saya iseng buka facebook timeline, dan muncullah foto di jaman bego: "Foto bergaya layaknya surfer, padahal yang dipegang adalah papan setrika!"

Langsung deh dapet ide. Kebegoan ini akan dijadikan pemicu buat campaign: "1 minggu BERBUAT."


Jadi selama 1 minggu ini saya akan berhenti jadi haters yang cuman bisa berkomentar (baik di dunia nyata maupun maya). Selama 1 minggu akan mencoba melakukan banyak hal, yang bisa saja mungkin akan dicibirin/dinyinyirin orang. Juga, berhenti berkomentar di twitter. Gantinya: menulis tentang hal yang saya lakukan aja.

...
Oke, dimulai dari... sekarang!

Kamis, 24 November 2011

Semacam Review Tapi Bukan, Tentang Stationspiraten

foto dari: http://www.solothurnerzeitung.ch/
unterhaltung/tabuthema-krebs-packend-umgesetzt-
100097442/asset/0/@@teaserImage/detail
Setelah nonton film ini saya merasa selama ini standar orang terhadap hidup telah terdistorsi. Seharusnya orang udah cukup bersyukur punya mata, kaki, tangan, dan telinga. Hanya itu. Itu aja seharusnya membuat hidup kita bahagia.

Ini juga berlaku untuk diri saya sendiri yang masih melihat kebahagiaan dari gadget apa yang bisa kamu beli.

Film ini menceritakan 5 anak yang divonis kanker. Sepanjang film menyuguhkan kehidupan mereka selama di rumah sakit. Bukan tipikal film yang mengeksploitasi penderitaan sehingga membuat penonton nangis sesungukan (setidaknya saya tidak nangis). Film ini mampu menggambarkan kehidupan mereka dari sisi fun (kenakalan/kejahilan mereka), dari sisi manusiawi (nyari pacar), dan tentu dari sisi yang menyentuh.

Terima kasih Europe On Screen yang tahun ini datang lagi ke SMG. Walau disini agak sepi, jangan kapok yak.

Selasa, 22 November 2011

Template

Yang paling membingungkan dari mengelola blog adalah menentukan template. Kayaknya gak pernah akan ada yang cocok sama selera.

Jadi sori nih kalau ganti-ganti terus.

Itu pun kalau selama ini ada yang 'noticed' x)

Rabu, 28 September 2011

Kereta Ekonomi

Dulu setiap naek bis ke sekolah sambil bergelantungan selalu was-wasan. Makanya gak kebayang gimana rasanya naek kereta, tapi dengan kondisi yang sama seperti bis. Terlebih lagi kita punya media, yang sering melebih-lebihkan. Hasilnya: dulu gak pernah tertarik untuk naek kereta ekonomi.

Tapi kemaren, waktu mau berangkat ke BIG WAVE festival, saya kecewa gak kebagian tiket kereta ekonomi.

...

Gara-gara 2 tahun lalu. Saya manggung di tangerang. Teman-teman saya sebagian udah berangkat kesana. Saya kloter terakhir, bareng temen. Nah, temen saya ini orang kaya. Dengan uangnya, dia bisa naek pesawat paling mahal. Tapi, dia malah ngajak naek kereta ekonomi.

Kondisi kereta waktu itu parah. Hampir sama parahnya dengan yg digambarin di TV. Saya dan temen kebagian 'tempat duduk' pas di gandengan kereta. Di gerbong udah penuh sesak. Penuh disini maksudnya bukan hanya tempat duduknya, melainkan seluruh ruangannya. Baik itu di kolong tempat duduk, maupun di lantai. Orang-orang berbaring, jongkok, berdiri berdesak-desakkan, dari bayi sampai mbah-mbah. Baru kali ini menyaksikan secara langsung pemandangan seperti ini.

Lalu apa yang saya rasakan?

Kalau dilihat memang menyeramkan. Apalagi saya selama 10 jam jongkok di gandengan kereta yang sedang melaju sekian ratus km/jam. Rel dan bebatuan tampak jelas persis di bawah kaki. Sedikit saja lengah, ini kaki bisa saja jatuh ke bawah, dan nasibnya entah.

Tapi perjalanan 10 jam itu gak kerasa. Melihat orang-orang dari berbagai jenis membaur dan bernasib sama ini adalah hiburan tersendiri. Kelakuan mereka aneh-aneh, dan sangat berbeda dengan saya. Apalagi mereka biasanya ramah, ngajak ngobrol, bahkan menawari makanan.

Senang bertemu dengan sisi lain.

Jumat, 16 September 2011

Aku Korban Tukul

Untuk yang pernah menonton acara2nya Tukul. Pasti tau adegan dimana dia hanya bengong ketika ditanya dengan bahasa inggris. Atau malah menjawab pertanyaan itu dengan bahasa inggris yang asal-asalan. Tetapi semua orang tertawa. Semenjak itu otakku dicuci dengan sebuah konsep baru: "Orang Indonesia wajar gak bisa berbahasa Inggris. Dan ngomong dengan bahasa Inggris yang asal-asalan itu Lucu."

Sampai kemudian...

Aku ditawari untuk mengisi sebuah workshop tentang Video. Kenapa aku yang dipilih?
1. Bisa jadi gara-gara pernah jadi finalis kompetisi Video Levis
2. Karena gak ada temen yang bisa. (alias lagi pada keluar kota - libur semesteran)

Aku mengiyakan tawaran tersebut. Kemudian dalam beberapa hari menyusun materi workshop.

Hari H tiba, bertepatan dengan hari pertama puasa Bulan Ramadhan. Aku, dan seorang teman, datang ke Hungry Buzz Tembalang. Di lantai 2 nya, ada ruang pertemuan. Disana telah berkumpul sekitar 25 orang, plus proyektor. Selama hidup, aku telah terbiasa bertemu orang, tapi kali ini beda. Karena ternyata hampir semua yang ada disini adalah BULE.

Aku mulai merasakan ada yg aneh.

Perasaan aneh itu mulai terbukti ketika salah satu panitia menyambut kami dengan kalimat:

"Mas, silakan langsung dimulai aja. Dan karena ini pesertanya Bule, tolong nanti pake bahasa Inggris ya"

#kemudianhening...

Temanku dengan berani memulai workshop ini. Dia memang kebagian tugas memberi pengantar soal Ide dalam pembuatan Video, sedangkan aku mengenai teknisnya. Bahasa inggrisnya biasa saja, tapi dia ngomong gak ada henti, alias modal nekat. Susunan kata2nya agak kacau. Tapi salut, dia sangat berani.

Kemudian giliran aku.

Aku maju ke depan. Melihat sepintas ke wajah-wajah bule yang entah tadi malam mereka mimpi apa sampai bisa bertemu dengan orang berbahasa inggris seperti aku ini. Kacau. Aku sering macet dalam menjelaskan soal teknis-teknis. Bahkan beberapa kali terdiam, untuk menyusun kata-kata. Yang lebih parah malah sempat berhenti dan bertanya "Hmm, kalo kata 'ini' bahasa inggrisnya apa ya?". Dan itu tak terlihat lucu seperti di acara Tukul.

Sampai kemudian salah satu panitia (orang Indonesia asli) berdiri dan memberi usul: "Mas, lebih baik pake bahasa Indonesia aja, ntar biar saya yang men-translate."


Aku Spontan menjawab: "ALHAMDULILLAH..."

Dan itu tidaklah lucu.

*workshop ini masih berlanjut beberapa hari kemudian di Vina House.
*dan tetap tidak lucu.

Saya -> Aku

Udah lama gak ngeblog.

Baca tulisan-tulisan yang dulu, lalu sadar kalau penggunaan kata "saya" ternyata sering gak enak dibaca yah daripada kata "aku".

Oke. Mulai sekarang pake aku-akuan aja.

Kamis, 24 Maret 2011

The Art of Lying

Waktu itu, saya dan seorang temen berencana bikin dokumenter pendek untuk ikut kompetisi. Ceritanya tentang perjalanan hidup temen saya itu yang seorang pianis. Dari waktu dia pengen belajar maen keyboard, sampai akhirnya berhasil main piano di depan banyak orang.

Di penutup dokumenter itu adalah ketika dia lolos audisi, untuk jadi opening konsernya purwacaraka di salah satu gedung di semarang.

"Emang disitu ada pianonya ya?", tanya saya.
"Ya ada dong. Kemaren pas aku jadi openingnya purwacaraka, pianonya bagus banget. Piano klasik warna coklat. Susah banget tuh nyari piano gitu. Bagus lah pokoknya buat masuk di film dokumenter kita."

Kemudian disitulah masalahnya. Bagaimana mengambil gambar dia sedang maen piano di gedung itu? Tentu gak bisa kami masuk begitu aja lalu tiba2 maen piano dan mengambil gambar seenaknya.

Maka kami sepakat untuk menjalankan rencana busuk. Berpura2 akan menyewa gedung tersebut, lalu ceritanya temen saya iseng nyoba maen piano disana, sedangkan saya merekamnya diam2. Itu adalah strateginya.

Kami berangkat ke gedung itu dengan kostum seadanya -jaket belel, celana sobek, dan sepeda motor-. gak ada tampang2 orang berduit yg mampu menyewa tempat kayak gini.

Baru aja turun dari motor kami udah dicurigai satpam. "Selamat siang, ada perlu apa ya?".
"Mau menyewa gedung ini untuk acara.."
"Untuk acara apa ya? Wedding atau sweet seventeen?", mukanya agak gak percaya
"Ehmm... Sweet seventeen"
"Silakan tunggu sebentar di lobby, saya panggilkan PR-nya"

Lobbynya cukup mewah. Terakhir kali saya kesini waktu SMA, dan sekarang ternyata sudah sangat berubah. Saya mulai ngeper.

"Eh, gak jadi aja yuk", ajak saya.

"Selamat siang", seorang mbak-mbak berseragam menjabat tangan kami, penampilannya tampak sangat professional dan serius. Itulah PR-nya sudah datang, tepat ketika muncul niat untuk pulang.

"Saya mawar (bukan nama sebenarnya)"
"Saya tian, ini tyas"
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" -> ini adalah kalimat tingkat tinggi seorang PR. menggunakan pilihan kata 'pak' untuk memberi sanjungan, walau yg didepannya ini adalah pemuda kekanak-kanakan dg masa depan suram.
"Saya mau memesan gedung ini untuk acara sweet seventeen"
"Oo bisa pak, untuk kapan ini?"
"Bulan depan mbak, boleh kami keliling-keliling dulu melihat tempatnya?"
"Silakan"

Kami berkeliling ke berbagai ruangan. ternyata disini banyak ruangannya, besar dan cukup mewah.

"Ruangan ini untuk maksimal 200 orang, yang ini untuk diatas 200 orang pak, yang ini untuk acara outdoor. ngomong-ngomong ini acaranya untuk berapa orang pak?"
"Hmm.. Sekitar 100-200 orang". Saya secara refleks selalu bilang "hmm" diawal kalimat, menandakan bukan seorang pembohong yg ulung.
"Ini yang ulang tahun siapa pak? adiknya ya?"
Dengan serentak, saya menjawab: "Iya, adek saya" sedangkan teman saya menjawab "Bukan..!". kami saling bertatapan, saya menelan ludah. Inilah resikonya kalau berbohong berdua. Sering gak kompak. Jadi canggung deh.

"Kalau ini buat adeknya, nanti keluarga bapak bisa ditempatkan di ruangan ini. Ruangan ini bisa disewa khusus untuk keluarga"
"Oya, tapi kayaknya nanti keluarga digabung sama tamu saja. Soalnya nanti keluarga yang datang cuman sedikit. Hanya keluarga rumah saja.", Saya mencoba mengeluarkan banyak kalimat untuk menutupi kecanggungan.

Setelah mengelilingi seluruh ruangan di tempat itu, saya bertanya satu pertanyaan yang paling penting:

"Mau tanya mbak, kalo pianonya ada di ruangan yang mana ya?
"Oo.. Disini gak ada piano pak, kalau mau pake piano harus bawa sendiri."

Saya melotot ke teman saya!